Dear Orangtua, Begini Cara Mendidik Anak agar Nggak Jadi Pelaku Bullying

Orangtua pasti nggak mau anaknya menjadi korban bullying. Tapi di sisi lain, sebagai orangtua juga harus memastikan anaknya tidak menjadi pelaku bullying.

Veronika Yasinta
Jum'at, 02 Juni 2023 | 14:18 WIB
Dear Orangtua, Begini Cara Mendidik Anak agar Nggak Jadi Pelaku Bullying
Orangtua harus memastikan anaknya tidak menjadi pelaku bullying. (Freepik/gpointstudio)

Indotnesia - Sebuah video viral di TikTok memperlihatkan murid SD rela pindah ke Sekolah Luar Biasa (SLB) karena sering di-bully di sekolah sebelumnya, Video itu diunggah oleh akun @satriabagus60 lantas menuai simpati dari warganet.

Anak tersebut terlihat berjalan kaki sejauh 2 km menuju sekolah bersama ayahnya yang sudah renta. Anak yang non-disabilitas itu memilih belajar di SLB untuk tetap belajar ketimbang di sekolah yang dulu.

Bullying memang bukan hal yang bisa disepelekan. Korban bisa mengalami trauma yang berkepanjangan. Orangtua pasti nggak mau anaknya menjadi korban bullying. Tapi di sisi lain, sebagai orangtua juga harus memastikan anaknya tidak menjadi pelaku bullying.

Berikut sejumlah cara mendidik anak agar nggak jadi pelaku bullying seperti dikutip dari Very Well Family:

Baca Juga:Fans Alami Amnesia Usai Nonton Konser Taylor Swift, Ini Kata Psikolog

Perhatikan anak

Kelihatannya simple, tapi sebagian orangtua nggak memiliki perhatian dalam kehidupan anak. Orangtua cenderung mengoreksi ketimbang mendengarkan dan mengenal anak-anak. Jadi luangkan waktu mengenal lebih dekat dengan anak-anak dan memperhatikan mereka.

Hargai orang lain

Pastikan anak memiliki rasa respect terhadap orang lain, terutama kepada mereka yang berbeda. Meski anak nggak menyukai seseorang, bukan berarti mereka boleh berlaku jahat.

Jangan abaikan pertengkaran dengan saudara

Baca Juga:Mengenal Rajwa Alseif, Gadis Saudi yang Dinikahi Putra Mahkota Yordania

Meski normal bagi saudara kandung untuk berdebat, meledek, dan bahkan bertengkar, namun kalau sudah mengarah pada kekerasan verbal dan fisik, maka itu nggak boleh diabaikan.

Anak yang melakukan intimidasi kepada saudara kandung di rumah bisa melakukan hal yang sama kepada teman di sekolah.

Kenali siapa teman anak

Sebagai orangtua, kamu boleh mengundang teman-teman anak ke rumah atau menghadiri acara bersama keluarga. Dengan begitu, orangtua akan memahami bagaimana perilaku anak dan teman-temannya ketika bersama.

Kalau anak menjalin pertemanan dengan perundung, pastikan kamu berbicara dengan perlahan apa yang baik dan tidak baik.

Ngobrol tentang bullying

Komunikasi yang konsisten adalah kunci pengasuhan yang baik dan sangat penting dalam mencegah intimidasi. Orangtua memang nggak bisa melindungi anak dari setiap pengaruh jahat, tapi bisa mempersiapkan mereka untuk menghadapi situasi sulit.

Menumbuhkan empati

Banyak pelaku bullying kurang memiliki empati. Tunjukkan bagaimana jika orang lain terluka atau membutuhkan bantuan. Dorong anak untuk menawarkan bantuan kepada mereka yang kesulitan.

Cara lain mengembangkan empati adalah membantu anak memproses emosi. Kalau anak dapat mengidentifikasi perasaannya sendiri, maka ia mampu memahami perasaan orang lain.

Bersikap tegas

Orangtua yang mengetahui anaknya merundung orang lain harus mengambil langkah tegas untuk mengakhiri itu. Kalau kasus bullying itu membuat anak harus berurusan dengan administrasi sekolah, maka orangtua harus mendukung tindakan disipliner apapun.

Penting bagi anak untuk menerima konsekuensi atas perilaku bullying-nya terhadap orang lain. Jangan mencoba melindungi mereka atau mereka nggak akan pernah belajar dari pengalaman.

REKOMENDASI

BERITA TERKAIT

Gaya Hidup

Terkini

Tampilkan lebih banyak